Postingan

Gambar
Kawan di belakang papan abu-abu Tak mau kah mencandu buku tua bersamaku Berbagi cawan nasihat & ilmu Akan ku dengarkan semua ceritamu Berikan tawaku untuk candamu Aku rindu masa Api semangat kita membara Melawan piciknya mayapada Tak peduli perut kosong & citra dunia Demi kearifan batin yg sesungguhnya Barangkali sudah Bukan saatnya memupuk asa terlalu bungah Menunggu aku lelah Aku sadar, kau tak pernah singgah Aku dan harapan Kau dan misteri Aku di paruh waktu Kau masih abu-abu In frame : Dermaga Pelabuhan Tilong, Labuan Bajo

Sejenak di Jakarta

Gambar
Desing suara Kereta Api Sembrani memecah hening peron stasiun KA Tawang. 31 Juli 2018 malam adalah kali pertama saya menjejakkan kaki di stasiun yang berlokasi di Ibu kota Jawa Tengah ini. Kali pertama juga mencecap kereta api kelas eksekutif (dibayarkan kantor FYI, hehe). Biasanya, KA kelas ekonomi yang mengantarkan saya ke tempat-tempat peraduan. Bertolak dari Semarang pukul 22.00 WIB, Jakarta adalah tujuan perjalanan saya malam itu. Terakhir kali saya ke Jakarta awal Desember tahun lalu, saat resign dari INDECON (Indonesia Ecotourism Network) ditemani kepingan-kepingan memori kelana di Flores yang akan selalu saya syukuri. Kereta Api Sembrani Pukul 4.20an saya sampai di stasiun KA Gambir, kemudian menuju penginapan di daerah Setia Budi dengan Grab Car. Setelah shalat subuh dan rehat sebentar, saya bersiap-siap menuju ke kantor di Menara Duta Building. Bermodalkan Google maps , sampai juga saya di kantor baru: Plan International Indonesia. Bismillah, project baru! Com...

Menggenap

Gambar
Sekitar 24 tahun lalu dia hadir di tengah-tengah keluarga kami. Sekira saat saya hampir berusia 3 tahun. Adek, atau biasa kami sekeluarga sapa Fai, 12 tahun menjadi anak bungsu, separuh dari umurnya saat ini. Aqiqah kami berdua berbarengan, tersebab saat saya lahir kondisi finansial keluarga kurang memungkinkan untuk menyelenggarakan aqiqah. Masa kecil adek tak dapat dipisahkan dari masa kecil saya. Masih teringat betul dalam memori, betapa manjanya adek dulu sebelum si ragil lahir. Sewaktu kami masih di sekolah dasar dulu, kalau ada yang mengganggu dan bikin adek menangis, saya pasang badan paling depan! Saya acungkan sapu kelas (sambil mengancam, halah). Haha. Konyol memang. Tak dinyana, adek yang dulu selalu saya bela kini sudah memperistri anak orang. Soal asmara memang adek lebih trengginas .  Mbakmu kalah, le! haha Jumat, 6 Juli kemarin adek mengucapkan sumpah sucinya, mengambil alih amanah seorang ayah atas putrinya. Saya ikut dag dig dug menyaksikan momen bersat...

Kelana di Pulau Bunga #2: Menikmati Pesona Kampung Tololela

Gambar
Malam Pertama 23 September 2016 malam saya menerobos gelapnya jalan ditengah-tengah hutan menuju kaki Gunung Inerie. Saya bertolak dari Ruteng ke Bajawa, kemudian dijemput oleh Andre, Mbak Brina dan Om Falen. Andre dan Mbak Brina merupakan rekan kerja di INDECON, sedangkan om Falen adalah ketua LPPT (Lembaga Pengembangan Pariwisata Tololela). Kali ini saya ditugaskan ke kampung adat di kawasan Jerebuu, Tololela. Kebetulan sekali saat saya tiba di Tololela, listrik sedang padam. Bersyukur saat langit sedang tidak mendung sehingga ribuan bintang bertaburan indah di Tololela. Literally a sky full of stars! Berbekal senter, saya coba menerawang bagaimana wujud Sa’o (rumah adat suku Ngadha) di kampung ini. Saat memasuki tanah lapang di tengah kampung, tampak ada 4 rumah kecil dengan atap limas dari daun ilalang. Rupanya itulah yang disebut Bhaga. Di seberangnya, terdapat 4 atap kerucut yang disangga tiang hitam. Inilah yang disebut Ngadhu. Bhaga merupakan simbol nenek moyang pe...

Si Ragil Masuk Pesantren

Gambar
Malam ini rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Suhu udara kaki Gunung Andong menambah suasana terasa sepi. Tak ada lagi keluhan-keluhan adek ragil (bungsu) kalau keinginannya tak dipenuhi atau tidak sesuai harapan. Tak ada lagi suara ribut Ibuk ngopyak-ngopyak (nyuruh) adek segera bergegas setiap waktu shalat. Tak ada lagi saya bawel menanggapi adek yang masih ceroboh dan kemproh (belum bisa rapi, bersih) 😂. Dan masih banyak lagi rutinitas yang hilang beberapa hari terakhir. Sudah  seminggu adek belajar hidup mandiri, mondok . Terhitung tanggal 7 Juli 2018 adek berstatus santri di SMP IT At Taqwa. Sebagai ikhtiar supaya anak-anaknya menjadi pribadi yang baik dan taat beragama, Bapak dan Ibuk mengirim kami ke pesantren selepas SD atau SMP.  Saat usia saya memasuki tahun ke 15, akhir April dini hari adek lahir dengan tangis kencangnya. Sementara adik laki-laki saat itu tepat berusia 12 tahun. Ya, kedua adik saya lahir di tanggal yang sama. Saya cukup waswas...

Pulang

Gambar
Hampir 2 tahun mangkrak memang sungguh keterlaluan. Kalau diibaratkan rumah, mungkin blog ini sudah sampai jadi debu. Maafkan saya, hiks. Pertengahan tahun 2016 s.d 2017 kemarin memang waktu terkuras untuk empowerment project di Flores. Selain waktu yang terbatas, keberadaan aliran listrik dan jaringan internet yang terbatas juga menambah kemalasan saya buat menulis. Kalau ada listrik ya sebisa mungkin saya gunakan untuk merampungkan report kerjaan yang harus segera dikirim ke kantor pusat di Jakarta. Padahal banyak sekali golden moment yang bisa menjadi bahan dan ide untuk tulisan. Sementara 6 bulan ke belakang, saya sedang fokus merintis usaha di rumah: Wedangbanimansyur. Pelan-pelan juga terseok-seok rasanya mengurus bisnis sendiri. Meskipun untuk produksi saya kerjasama dengan Ibuk, tapi urusan manajemen, marketing, bahkan desain kemasan pun saya urus sendiri. Guna meminimalisasi biaya produksi, kalau kata dosen jaman kuliah dulu. Being newbie entrepreneur means you ha...

Kelana di Pulau Bunga #1: Mengibas Dingin Negeri Diatas Awan, Waerebo

Gambar
Karena value of time bersama komunitas jauh lebih berharga dari value of money , 30 Juli 2016 saya bulatkan tekad, saya harus berangkat ke Pulau Bunga, Flores! *** 18 Agustus 2016. Setelah mendarat di Labuan Bajo sekitar pukul 15.30 WITA, perjalanan kami berlanjut menuju kampung Tado, Manggarai Barat. Di Tado, saya berkenalan dengan om Mias dan keluarganya. Ayah om Mias merupakan Tua Golo (ketua adat) disini. Menghabiskan senja dan makan malam nasi merah di Tado, pukul 20.30 kami menuju Ruteng, tempat dimana kantor rumah penempatan saya. Jumat pagi, udara dingin yang begitu menusuk rupanya sangat menggoda untuk menarik selimut kembali. Sekitar pukul 9 kami lanjutkan perjalan dari Ruteng menuju Waerebo. 3 jam didalam mobil menyusuri jalanan aspal nggronjal dan berkelok-kelok dari Ruteng sampai Dintor membuat perut terasa mual dan kepala pening. Tapi semua itu terbayar dengan pemandangan di sepanjang jalan. Terlebih ketika mulai memasuki daerah pantai, terlihat pulau cantik yang ...

List!

Gambar
Wacana me-list koleksi perpustakaan pribadi ini akhirnya terealisasi juga, sebagai bentuk ikhtiar merawat nikmat dari sebagian kecil ilmu yang Allah sudah titipkan. Jujur karena kemarin-kemarin sebelum ada list ini saya sedikit risau ketika mendapati koleksi buku saya ada yang hilang. Entah belum dikembalikan teman atau saya yang teledor. Ternyata koleksi buku saya masih sedikit, belum sesuai rencana. Di awal kuliah dulu, saya pasang target memiliki 500 buku saat sudah lulus nanti. Ternyata yang tercapai hanya sekitar seperlimanya. Hehe. Saat beasiswa masih banyak dulu memang hampir sebulan sekali saya bisa mengalokasikan uang untuk membeli buku. Saat beasiswa sudah menipis, ternyata butuh berpikir berulang kali untuk membeli buku. Duh. Koleksi buku dibawah ini sedikit banyak membentuk pola pikir dan idealisme saya. Syukur alhamdulillah di Yogakarta ini saya banyak dipertemukan dengan teman-teman dan guru-guru yang luar biasa, mulai dari kiri mentok hingga kanan mentok #eh...