Postingan

Menampilkan postingan dengan label Refleksi

Menggenap

Gambar
Sekitar 24 tahun lalu dia hadir di tengah-tengah keluarga kami. Sekira saat saya hampir berusia 3 tahun. Adek, atau biasa kami sekeluarga sapa Fai, 12 tahun menjadi anak bungsu, separuh dari umurnya saat ini. Aqiqah kami berdua berbarengan, tersebab saat saya lahir kondisi finansial keluarga kurang memungkinkan untuk menyelenggarakan aqiqah. Masa kecil adek tak dapat dipisahkan dari masa kecil saya. Masih teringat betul dalam memori, betapa manjanya adek dulu sebelum si ragil lahir. Sewaktu kami masih di sekolah dasar dulu, kalau ada yang mengganggu dan bikin adek menangis, saya pasang badan paling depan! Saya acungkan sapu kelas (sambil mengancam, halah). Haha. Konyol memang. Tak dinyana, adek yang dulu selalu saya bela kini sudah memperistri anak orang. Soal asmara memang adek lebih trengginas .  Mbakmu kalah, le! haha Jumat, 6 Juli kemarin adek mengucapkan sumpah sucinya, mengambil alih amanah seorang ayah atas putrinya. Saya ikut dag dig dug menyaksikan momen bersat...

Si Ragil Masuk Pesantren

Gambar
Malam ini rumah terasa lebih lengang dari biasanya. Suhu udara kaki Gunung Andong menambah suasana terasa sepi. Tak ada lagi keluhan-keluhan adek ragil (bungsu) kalau keinginannya tak dipenuhi atau tidak sesuai harapan. Tak ada lagi suara ribut Ibuk ngopyak-ngopyak (nyuruh) adek segera bergegas setiap waktu shalat. Tak ada lagi saya bawel menanggapi adek yang masih ceroboh dan kemproh (belum bisa rapi, bersih) 😂. Dan masih banyak lagi rutinitas yang hilang beberapa hari terakhir. Sudah  seminggu adek belajar hidup mandiri, mondok . Terhitung tanggal 7 Juli 2018 adek berstatus santri di SMP IT At Taqwa. Sebagai ikhtiar supaya anak-anaknya menjadi pribadi yang baik dan taat beragama, Bapak dan Ibuk mengirim kami ke pesantren selepas SD atau SMP.  Saat usia saya memasuki tahun ke 15, akhir April dini hari adek lahir dengan tangis kencangnya. Sementara adik laki-laki saat itu tepat berusia 12 tahun. Ya, kedua adik saya lahir di tanggal yang sama. Saya cukup waswas...

Alhamdulillah ya..

Gambar
Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Tapi kok cuma semangat ngoleksi hijab syar’i dengan berbagai mode, lupa memperbaiki akhlaqnya. Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Tapi kok seneng banget menumpuk-numpuk busana. Sedekahnya kapan? Ntar-ntar aja deh! Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Geulis pisan euy hijabnya, berwarna-warni, manis berbunga-bunga. Sampai si dia berdecak kagum menatap terpana. Berat dan nggak siap rasanya kalau disedekahkan buat saudara yang membutuhkan. Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Tapi kok jadi sibuk buat tampil cantik dan syar’i, waktu habis mematut-matut diri didepan cermin, lupa menambah ilmu agama. Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Rajin hadir majelis ta’lim juga lho, tapi buat pamer koleksi hijab syar’inya. Alhamdulillah ya sekarang udah pakai hijab syar’i. Tapi kok harga hijab syar’inya mahal bingit, lupa tawadhu’ dan kesederhanaan. A...

Adalah Kasih: Perjalanan 57 Hari di Supiori

Gambar
Aku terhenti pada ayat ini, ayat yang hampir setiap pagi dan petang aku membacanya, “ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu . Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (QS. Ar Rūm: 22) Bertutur menyebut nama-Mu, berdua-puluh-lima kami bulatkan tekad, kami harus hadir di tanah Papua! Bentangan laut, gunung, dan belantara hijau kami susuri. Bermula dari Yogyakarta menuju Surabaya melewati jalur darat, kemudian terbang menuju Biak via Makassar dan disambung kembali menembus jalur darat menuju tanah pengabdian, Distrik Supiori Timur. Bergerak cepat waktu kemudian. Saban hari kami bercengkerama bersama wajah-wajah lugu berterus terang, hingga kami hanyut dalam kehidupan masyarakat tiga kampung ini: Sorendiweri, Sauyas dan Wafor. Disini, kami memaknai dan menghikmahi perbedaan dalam bingkai cinta kasih… *** Adalah kasih ketika kau pe...

~Perahu Harapan~

Gambar
  Buat apa mengutuk perbedaan. Biarlah gejolak rasa & gelombangnya berpadu, bersama melaju menyongsong harapan baru :) #10 #AsikinAja

Sedikit tentang Nge-BEM, #AsikinAja :)

Ia tak pernah meminta untuk menanti.  Ia adalah soal mengambil kesempatan atau mempersilakan.  Juga soal keberanian atau pengorbanan.  Ia soal belajar mendengarkan dan didengarkan.  Dua telinga, satu mulut. Banyak-banyaklah mendengarkan. Juga soal satu jiwa memahami jiwa-jiwa yang lain. Berani tertatih walau perih, pantang menyerah walau payah, tiada mengeluh walau berpeluh. Ini adalah soal belajar meloncati rasa suka dan tak suka.  Keduanya beradu atau berpadu. Diperlukan hentakan keyakinan dan harapan, yang akan melahirkan keberanian, keteguhan  kesabaran.  Rumah Singgah, 12 Mei 2013 | Semua karena cinta

Ragu

“ Aku berlindung kepada Allah dari keraguan hati, lisan atau tangan kepada-Mu. Tiada Rabb selain Engkau wahai Dzat yang Tiada Meragukan ” Dibutuhkan nyali yang besar untuk memulai, karena keberanian memulai adalah awal dari pembelajaran. Bukankah kita pembelajar? Atau sekedar pelajar? Dan ternyata dibutuhkan keberanian lebih untuk tetap bertahan, konsisten atau istiqamah . Terkadang kita (mungkin hanya aku, tidak kau) memang kalah dan terpaksa oleh kondisi, yang sejatinya kita bisa mengendalikannya. Jauh diatas sana, namun dekat dalam hati kita, ada Dzat yang Maha Mengendalikan dan Menguasai segala-galanya. Kita hanyalah butiran debu yang hanya mampu berencana dan berwacana. Selanjutnya, Dia yang Menguasa. Kewajiban kita hanya mengusahakan, berikhtiar sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya. Mungkin usaha dan ikhtiarku belum sebaik dan sekuat engkau. Maaf. Suatu hal yang benar dan yang salah, secara mendasar batas-batasnya sudahlah jelas di mata hati dan akal pikiran kita. Kejelas...